Writy.
  • Home
  • Advertorial
  • Ekonomi Bisnis
  • Finance
  • Kesehatan
  • Lifestyle
  • Teknologi
No Result
View All Result
Writy.
  • Home
  • Advertorial
  • Ekonomi Bisnis
  • Finance
  • Kesehatan
  • Lifestyle
  • Teknologi
No Result
View All Result
Writy.
No Result
View All Result
Israel Bersikeras Bertahan di Gaza, Ini Syarat agar Pasukannya Mau Mundur

Israel Bersikeras Bertahan di Gaza, Ini Syarat agar Pasukannya Mau Mundur

admin by admin
August 1, 2026
in Internasional
0
Share on FacebookShare on Twitter

Upaya mengakhiri konflik di Jalur Gaza kembali menghadapi jalan terjal. Israel menegaskan belum bersedia menarik pasukannya dari wilayah Gaza sebelum Hamas benar-benar menjalankan proses pelucutan senjata.

Sikap tersebut muncul setelah Hamas menyatakan telah menyetujui kesepakatan yang memuat sejumlah langkah menuju penghentian perang, termasuk perlucutan senjata dan penarikan pasukan Israel secara bertahap.

You might also like

138 Blok Migas Dibuka untuk Rusia, Indonesia Bidik Investasi dan Teknologi

138 Blok Migas Dibuka untuk Rusia, Indonesia Bidik Investasi dan Teknologi

September 4, 2026
Arab Saudi Tangkap 108 PNS, Terjerat Dugaan Suap dan Penyalahgunaan Jabatan

Arab Saudi Tangkap 108 PNS, Terjerat Dugaan Suap dan Penyalahgunaan Jabatan

September 2, 2026

Namun, bagi Israel, urutannya tidak bisa dibalik. Tel Aviv menginginkan adanya bukti nyata bahwa Hamas telah melucuti persenjataannya sebelum penarikan pasukan dilakukan.

Israel Tak Mau Mundur dari Garis Kuning

Sumber politik Israel yang dikutip AFP pada Sabtu (1/8/2026) menyebut tidak akan ada penarikan pasukan Israel dari posisi mereka di sepanjang apa yang disebut sebagai Garis Kuning, kecuali Hamas melakukan pelucutan senjata secara serius.

Garis tersebut menjadi salah satu titik penting dalam pengaturan wilayah Gaza, dengan posisi pasukan Israel dan wilayah yang berada di bawah kendali Hamas dipisahkan oleh garis demarkasi tersebut.

Pernyataan itu sekaligus memperlihatkan bahwa isu keamanan masih menjadi persoalan paling sensitif dalam pembicaraan mengenai masa depan Gaza.

Israel tampaknya ingin memastikan bahwa penarikan pasukan tidak memberikan kesempatan bagi Hamas atau kelompok bersenjata lainnya untuk kembali membangun kemampuan militernya.

Di sisi lain, Hamas justru menempatkan penarikan pasukan Israel sebagai prasyarat sebelum mereka mengambil langkah menuju pelucutan senjata. Perbedaan urutan inilah yang berpotensi kembali menghambat implementasi kesepakatan.

Hamas Klaim Sudah Memberi Konsesi

Pada Jumat (31/7/2026), Hamas mengonfirmasi persetujuannya terhadap sebuah kesepakatan untuk mengakhiri perang dengan Israel.

Kesepakatan tersebut mencakup proses pelucutan senjata Hamas serta penarikan pasukan Israel dari Gaza secara bertahap. Pengumuman itu datang setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya menyatakan bahwa telah tercapai kesepakatan mengenai “perlucutan senjata total” Hamas.

Hamas menyatakan proses penyimpanan senjata akan diawasi oleh sebuah komite yang dibentuk oleh Board of Peace atau Dewan Perdamaian yang berkaitan dengan rencana pengelolaan Gaza.

Kelompok tersebut juga meminta mediator dan Dewan Perdamaian memastikan Israel menjalankan kewajibannya, terutama terkait penarikan pasukan dari wilayah Gaza.

Anggota tim negosiasi Hamas, Ghazi Hamad, menyebut keputusan kelompoknya sebagai sebuah konsesi yang diambil dengan mempertimbangkan kondisi warga Gaza.

Menurutnya, langkah tersebut dimaksudkan untuk mengurangi penderitaan masyarakat Gaza akibat perang, termasuk ancaman kematian dan pengungsian.

Namun Hamas memberikan catatan penting: pelucutan senjata tidak akan dimulai begitu saja apabila Israel belum memenuhi bagian-bagian kesepakatan yang menjadi kewajibannya.

Siapa yang Harus Bergerak Lebih Dulu?

Inilah titik paling rumit dalam negosiasi.

Israel pada dasarnya mengatakan Hamas harus melucuti senjata lebih dahulu sebelum pasukan Israel mundur. Sementara Hamas menegaskan Israel harus memenuhi kewajibannya, termasuk menarik pasukan, sebelum proses pelucutan senjata dijalankan.

Dengan demikian, kedua pihak sama-sama menempatkan tindakan lawannya sebagai jaminan utama.

Persoalan tersebut bukan sekadar mengenai senjata. Pelucutan senjata berkaitan erat dengan siapa yang akan memegang kendali keamanan Gaza, bagaimana pemerintahan baru dibentuk, serta siapa yang bertanggung jawab terhadap rekonstruksi wilayah tersebut.

Hamas menyatakan Israel tidak akan dilibatkan langsung dalam proses pelucutan senjata. Tugas itu, menurut Hamas, akan dijalankan oleh Komite Nasional untuk Administrasi Gaza atau NCAG.

Masa Depan Gaza Masih Penuh Tanda Tanya

Pelucutan senjata Hamas telah menjadi salah satu hambatan utama dalam perkembangan kesepakatan gencatan senjata yang berlaku sejak Oktober 2025.

Rencana yang dibicarakan tidak hanya menyangkut penghentian pertempuran, tetapi juga masa depan pemerintahan dan keamanan Gaza setelah perang.

Dalam perkembangan terbaru, sejumlah laporan internasional menyebut rencana perdamaian mengarah pada proses pelucutan senjata secara bertahap dan terverifikasi, yang kemudian diikuti penarikan pasukan Israel serta pembentukan mekanisme keamanan dan pemerintahan transisi.

Masalahnya, Israel masih mempertahankan posisi bahwa penarikan pasukan tidak dapat dilakukan tanpa adanya kepastian mengenai pelucutan senjata Hamas.

Sementara itu, Hamas menginginkan adanya jaminan bahwa penarikan pasukan Israel dan proses rekonstruksi Gaza benar-benar berjalan sebelum kelompok tersebut menyerahkan persenjataannya.

Kondisi ini membuat kesepakatan yang di atas kertas terlihat sebagai jalan menuju perdamaian masih menghadapi ujian berat dalam pelaksanaannya.

Bola kini berada di meja perundingan: apakah Israel dan Hamas dapat menyepakati mekanisme yang memungkinkan pelucutan senjata dan penarikan pasukan berjalan secara bersamaan, atau justru perbedaan mengenai siapa yang harus bertindak lebih dulu kembali membuat proses perdamaian Gaza tersendat.

Perkembangan ini menjadi salah satu isu penting yang akan menentukan apakah kesepakatan tersebut benar-benar mampu membawa Gaza menuju fase pascaperang atau kembali terjebak dalam kebuntuan.

admin

admin

Related Stories

138 Blok Migas Dibuka untuk Rusia, Indonesia Bidik Investasi dan Teknologi

138 Blok Migas Dibuka untuk Rusia, Indonesia Bidik Investasi dan Teknologi

by admin
September 4, 2026
0

Pemerintah Indonesia membuka peluang lebih luas bagi perusahaan Rusia untuk masuk ke sektor minyak dan gas bumi (migas) nasional. Sebanyak...

Arab Saudi Tangkap 108 PNS, Terjerat Dugaan Suap dan Penyalahgunaan Jabatan

Arab Saudi Tangkap 108 PNS, Terjerat Dugaan Suap dan Penyalahgunaan Jabatan

by admin
September 2, 2026
0

Pemerintah Arab Saudi kembali memperketat pemberantasan korupsi di lingkungan pemerintahan. Sebanyak 108 pegawai pemerintah ditahan sepanjang Agustus 2026 setelah otoritas...

Presiden Iran Puji Rusia di Tengah Konflik dengan AS, Putin Tegaskan Dukungan untuk Teheran

Presiden Iran Puji Rusia di Tengah Konflik dengan AS, Putin Tegaskan Dukungan untuk Teheran

by admin
September 1, 2026
0

Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyampaikan apresiasi kepada Presiden Rusia Vladimir Putin atas sikap Moskow terhadap Teheran di tengah meningkatnya ketegangan...

Ketegangan Timur Tengah Reda, Ini Dampaknya bagi Harga BBM Malaysia

Trump Masukkan Selat Hormuz ke Peta AS, Iran Bereaksi Keras

by admin
August 19, 2026
0

Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali memicu ketegangan dengan Iran setelah mengunggah peta yang menampilkan Selat Hormuz sebagai bagian dari...

Next Post
Kebakaran KM Mutiara Sentosa 2 di Perairan Sumenep, 5 Orang Meninggal dan 227 Selamat

Kebakaran KM Mutiara Sentosa 2 di Perairan Sumenep, 5 Orang Meninggal dan 227 Selamat

JakartaUrban.Com

Jakarta, Gaya Anda.

  • Redaksi
  • About Us
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Contact Us

© 2025 JAKARTAURBAN.COM

No Result
View All Result
  • Home
  • Advertorial
  • Ekonomi Bisnis
  • Finance
  • Kesehatan
  • Lifestyle
  • Teknologi

© 2025 JAKARTAURBAN.COM