Writy.
  • Home
  • Advertorial
  • Ekonomi Bisnis
  • Finance
  • Kesehatan
  • Lifestyle
  • Teknologi
No Result
View All Result
Writy.
  • Home
  • Advertorial
  • Ekonomi Bisnis
  • Finance
  • Kesehatan
  • Lifestyle
  • Teknologi
No Result
View All Result
Writy.
No Result
View All Result
Impor Daging dan Susu Thailand Berpotensi Ganggu Neraca Perdagangan RI

Impor Daging dan Susu Thailand Berpotensi Ganggu Neraca Perdagangan RI

admin by admin
August 5, 2026
in Ekbis
0
Share on FacebookShare on Twitter

Tawaran Thailand untuk meningkatkan impor pupuk Indonesia sebagai imbalan akses ekspor daging dan susu dinilai belum menciptakan hubungan dagang yang seimbang. Ekonom memperingatkan skema ini berisiko memperdalam defisit perdagangan bilateral yang telah berlangsung sejak 2011.

Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics Indonesia Mohammad Faisal mengkritisi struktur komoditas yang dipertukarkan dalam skema tersebut. Indonesia akan mengekspor barang input produksi sementara harus mengimpor barang konsumsi jadi dari Thailand.

You might also like

Rupiah Menguat ke Rp17.792 per Dolar AS, Jadi Kado HUT RI ke-81

Rupiah Menguat ke Rp17.792 per Dolar AS, Jadi Kado HUT RI ke-81

August 17, 2026
Penerapan PPh 22 Marketplace Ditunda, Ini Pertimbangan Purbaya

Penerapan PPh 22 Marketplace Ditunda, Ini Pertimbangan Purbaya

August 14, 2026

“Ini tidak terlalu seimbang menurut saya. Bukan kita lihat dari value-nya saja, tetapi lihat dari jenis barangnya. Kalau kita mengimpor daging dan susu, itu umumnya adalah bahan pangan untuk kebutuhan konsumsi, sementara kalau kita mengekspor pupuk, pupuk itu adalah untuk kebutuhan aktivitas produksi,” ujar Faisal dikutip dari Bisnis.com, Rabu, 5 Juli 2026.

Perbedaan jenis komoditas ini menghasilkan dampak pengganda yang berbeda terhadap perekonomian. Ekspor pupuk memberikan nilai tambah bagi aktivitas produksi di Thailand, sedangkan impor daging dan susu hanya memenuhi kebutuhan konsumsi domestik tanpa efek berganda signifikan.

“Jadi kita mengekspor barang input, sementara kita mengimpor barang jadi, barang konsumsi. Itu berhubungan dengan multiplier effect dari apa yang kita impor dan juga apa yang diekspor ke Thailand,” katanya.

Data Badan Pusat Statistik menunjukkan Indonesia konsisten mencatat defisit perdagangan dengan Thailand sejak 2011. Pada 2025, defisit menyempit menjadi US$140,6 juta dengan ekspor US$8,77 miliar dan impor US$8,91 miliar.

Kondisi itu membaik dibandingkan 2024 ketika defisit mencapai US$2,02 miliar. Namun tren negatif masih berlanjut dengan defisit US$3,03 miliar pada 2023 dan US$2,79 miliar pada 2022.

Faisal mengingatkan pemerintah perlu mencermati kondisi neraca perdagangan yang selama ini masih defisit. Impor berbagai komoditas pangan dari Thailand terjadi karena produksi dalam negeri belum mampu memenuhi kebutuhan konsumsi.

“Selama ini kita perdagangan dengan Thailand kan sudah defisit. Kita banyak mengimpor hasil-hasil bahan pangan produk pertanian, yang sebetulnya karena kita tidak cukup produksi di dalam negeri, mengimpor itu sebagai sebuah konsekuensi untuk memenuhi kebutuhan konsumsi di dalam negeri,” tuturnya.

Faisal menekankan impor sebaiknya dilakukan sebagai pilihan terakhir ketika pasokan domestik tidak mencukupi. Pemerintah harus memprioritaskan penyerapan produksi dalam negeri sebelum membuka keran impor dari negara manapun.

“Jadi tentu saja itu harus dilakukan dengan rule of thumb-nya tadi. Kita memprioritaskan pemanfaatan atau penyerapan daripada produksi di dalam negeri dulu, kalau tidak cukup baru mengimpor,” imbuhnya.

Pemerintah juga perlu mempertimbangkan berbagai aspek sebelum memutuskan sumber impor. Apabila terdapat banyak negara pemasok, pemerintah sebaiknya memilih produk yang paling kompetitif dari sisi harga maupun kualitas.

“Selama ini saya melihat memang Thailand kita banyak defisitnya karena kita mengimpor bahan pangan, juga karena faktor harga. Kalau impor daging dan susu dibuka, produk Thailand harus lebih kompetitif dibanding Australia atau Selandia Baru,” lanjut Faisal.

Kerja sama dengan Thailand juga tidak boleh menghambat agenda pemerintah meningkatkan produksi peternakan nasional. Peningkatan kapasitas produksi daging dan susu dalam negeri harus tetap menjadi prioritas utama.

“Tetap dengan mendorong produksi daging dan susu di dalam negeri. Itu yang perlu juga diperhatikan jangan sampai tidak sinkron dengan upaya peningkatan kapasitas produksi di dalam negeri, ini kan kaitannya dengan program pembangunan sektor peternakan,” tandasnya.

admin

admin

Related Stories

Rupiah Menguat ke Rp17.792 per Dolar AS, Jadi Kado HUT RI ke-81

Rupiah Menguat ke Rp17.792 per Dolar AS, Jadi Kado HUT RI ke-81

by admin
August 17, 2026
0

Nilai tukar rupiah mengawali perdagangan Senin (17/8/2026) dengan pergerakan positif terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Mata uang Garuda sempat menguat...

Penerapan PPh 22 Marketplace Ditunda, Ini Pertimbangan Purbaya

Penerapan PPh 22 Marketplace Ditunda, Ini Pertimbangan Purbaya

by admin
August 14, 2026
0

Pemerintah menunda pemungutan Pajak Penghasilan Pasal 22 melalui lokapasar hingga 1 November 2026 untuk menjaga daya beli masyarakat. Keputusan ini...

Cegah Defisit Tidak Membengkak, Anggaran MBG 2027 Diusulkan untuk Dipangkas

Cegah Defisit Tidak Membengkak, Anggaran MBG 2027 Diusulkan untuk Dipangkas

by admin
August 13, 2026
0

Presiden Prabowo Subianto akan berpidato soal Rancangan Undang-Undang (RUU) APBN 2027 dan Nota Keuangan, Jumat, 14 Agustus 2026. Pidato itu...

Harga Buyback Emas Antam Makin Tinggi, Naik Rp151 Ribu Sejak Awal 2026

Harga Buyback Emas Antam Makin Tinggi, Naik Rp151 Ribu Sejak Awal 2026

by admin
August 10, 2026
0

Harga buyback emas Antam bertambah Rp151.000 sepanjang tahun berjalan, menguat 6,39 persen ke level Rp2.511.000 per gram pada Senin, 10...

Next Post
10 Pulau Terfavorit di Dunia 2026, Tak Ada Indonesia tapi Ada 2 Wakil Asia Tenggara

10 Pulau Terfavorit di Dunia 2026, Tak Ada Indonesia tapi Ada 2 Wakil Asia Tenggara

JakartaUrban.Com

Jakarta, Gaya Anda.

  • Redaksi
  • About Us
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Contact Us

© 2025 JAKARTAURBAN.COM

No Result
View All Result
  • Home
  • Advertorial
  • Ekonomi Bisnis
  • Finance
  • Kesehatan
  • Lifestyle
  • Teknologi

© 2025 JAKARTAURBAN.COM